Bos Probest International kembali diadukan mitra bisnisnya ke polisi. Juga digugat secara perdata. Dituding melakukan penipuan dan penggelapan. Korban Probest terus berjatuhan.
ANGAN muluk Willy Nainggolan sempat bertengger 14 bulan di benaknya. Setelah itu, berubah menjadi kenyataan menyakitkan, bersamaan dengan limbungnya bisnis Probest International. Bayang-bayang keuntungan Rp 255 juta, yang dirasakannya sudah menari-nari di depan mata, lenyap sudah. Malah, duit pensiunnya Rp 85 juta bablas ke pundi-pundi Probest, lembaga pembiakan uang yang lagaknya dikelola di jalur maya (e-business).
Seluruh energi Willy kini tersedot hanya untuk berusaha menarik kembali uangnya itu. Namun sepertinya sia-sia. Aktivitas Probest sudah mandek. Kantornya yang megah di Jalan Gunung Sahari Nomor 25, Jakarta Pusat, cuma berisi sejumlah satpam dan pegawai administrasi. Lemari display, yang biasa memajang produk Probest berupa benda seni dan kerajinan, kosong melompong. Bos Probest, Burhan Sofian, yang dilaporkan ke Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, hingga pekan ini belum juga nongol menanggapi keluhan para nasabahnya.
Willy, 56 tahun, nyaris putus asa. ”Ini penipuan. Saya berharap uang itu bisa kembali,” ujar pensiunan satu perusahaan negara itu, geram. Willy amat menyesal termakan iming-iming Probest. Apalagi, belum sesen pun ia mencicipi keuntungan yang dijanjikan Probest.
Nasi sudah jadi kerak. Seandainya Willy, juga ribuan korban Probest lainnya, menggunakan akal sehat, barangkali mereka tak perlu apes seperti ini. Soalnya, sedari awal, iming-iming ala Probest jelas-jelas mencurigakan. Tak masuk akal. Coba simak: dengan ongkang-ongkang kaki, modal yang ditanam bakal menggelembung sampai 400% hanya dalam tempo 14 bulan.
Busyet, dari mana hitung-hitungannya? Tak jelas, tentu saja. Wong cuma akal-akalan Probest. Suka-suka pengelolanya merancang iming-iming untuk menggaet mangsa. Ironisnya, banyak yang kejeblos menjadi korban. Sampai perusahaan itu mulai guncang, September silam, diperkirakan telah menghimpun setidaknya 50.000 nasabah, dengan jumlah dana yang dikeruk trilyunan rupiah. Pada 2001 saja, Probest mengklaim menghimpun 30.000 nasabah dari 24 negara. Setiap nasabah menanam uangnya Rp 11 juta-Rp 1 milyar.
Probest didirikan Burhan Sofian pada 29 November 2000. Mulanya menempati ruko di Pecenongan, Jakarta Pusat. Hanya dalam dua tahun, Probest berkembang pesat dan menempati kantor sendiri di Gunung Sahari senilai Rp 100 milyar. Penggunaan menara delapan tingkat seluas 10.000 meter persegi itu diresmikan Gubernur DKI Sutiyoso, pertengahan Juni 2002. Separuh jalur Jalan Gunung Sahari ditutup sebagai tempat parkir ratusan kendaraan, termasuk bus pengangkut nasabah.
Ribuan nasabah tumplek di sana riang gembira, tak kalah meriah dibandingkan dengan ketika grand launching pada Mei 2001. Maklumlah, mereka lagi happy dibuai mimpi indah. Suasana meriah dan penuh ”masa depan” itu dipublikasikan secara luas. Walhasil, makin banyak saja mangsa yang mendekat. Apalagi, untuk mengundang calon investor alias mitra bisnis –sebutan keren bagi nasabah– lembaga itu menawarkan hadiah langsung. Mulai telepon genggam, emas batangan, hingga sedan Mercedes.
Aturan main di perusahaan yang menempatkan Laksamana Madya (purnawirawan) Heribertus Moetaryono sebagai presiden komisaris itu memang unik. Di situ ditawarkan dua paket (active plan dan consumption plan) dengan aneka barang dagangan riil. Katanya sih berupa perhiasan, kerajinan kulit, sampai furnitur. Nilai barang tersebut dikonversi dengan poin. Satu poin setara dengan satu dolar.
Active plan mirip pola multilevel marketing. Sang mitra yang membawa mitra baru (down line) akan memperoleh fee 10% dari nilai uang yang dibelanjakan mitra yang diajak tersebut. Sedangkan pada consumption plan, mitra bisnis cuma memperoleh loyalty –istilah manajemen Probest menyebut bonus keuntungan bagi mitra bisnis– tergantung nilai pembelanjaan produk. Ambil contoh, paket satu set dengan nilai total US$ 790, yang dibayar dalam 13 tahap.
Pada tahap atau bulan ketiga, mitra bisnis memperoleh loyalty maksimum US$ 5, yang masuk ke e-wallet alias dompet elektronik miliknya. Untuk mendapat password e-wallet, mitra bisnis terlebih dulu membeli starter kid senilai US$ 155. Tahap berikutnya hingga akhir tahap ke-13, tahu-tahu loyalty maksimal mencapai US$ 1.400. Tapi, awas, jangan sekali pun lalai memenuhi tahapan yang ditentukan. Sebab, semua loyalty bakal dinyatakan hangus.
Iming-iming tadi, disertai promosi gencar dan penyebaran tenaga penjualan ke seluruh Nusantara, membuat Probest begitu populer dan mudah menarik mitra bisnis. Apalagi, bertebaran pula kisah sukses mitra menambang loyalty. Contohnya Emerson, mitra asal Lampung. ”Saya mengantongi loyalty Rp 30 juta sebulan,” tutur Emerson kepada Gatra, Oktober silam.
Emerson bergabung dengan Probest pada Juli 2001. Ia mengambil paket consumption plansenilai US$ 300, di samping ikut active plan. Ia mengaku tak peduli dengan produk riilnya. Yang penting, uangnya menggelembung pada saat tahapan paket berakhir. Belum jelas, bagaimana kabarnya kini.
Cerita lebih menggiurkan disampaikan mitra bernama Meirizal Zulkarnaen. Bekas wartawan tabloid bisnis yang bergabung dengan Probest tahun 2001 ini menangguk loyalty sampai US$ 20.000 sebulan. Cerdiknya pula, ketika Probest makin oyong akhir 2002, Meirizal cabut dan mendirikan usaha serupa, yakni Golden Saving. Tapi, perusahaan ini cuma berumur empat bulan, lalu bangkrut meninggalkan setumpuk masalah dengan ribuan nasabahnya.
Gejala olengnya Probest mulai dirasakan mitra bisnis pada September tahun lalu. Ketika itu, banyak nasabah yang kecele karena e-wallet-nya masih kosong kendati sudah waktunya memperoleh loyalty. Tapi, waktu itu nyaris tak ada mitra yang protes. Mereka manggut-manggut saja ketika manajemen memberi alasan bahwa keterlambatan pembayaran itu disebabkan pembenahan sistem jaringan komputer di Probest.
Tidak demikian dengan Ny. Soelidarmi. Mitra asal Yogyakarta ini serta-merta melaporkan Burhan Sofian ke Polda Metro Jaya. ”Praktek Probest sudah melebihi penipuan. Polisi mesti mengusutnya,” kata Soelidarmi, 60 tahun. Burhan Sofian dilaporkannya dengan sangkaan melakukan penipuan sebagai mata pencaharian, penggelapan, serta melanggar Undang-Undang Perbankan.
Pensiunan Wakil Ketua Pengadilan Negeri Sleman, Yogyakarta, itu memaparkan, ia belum memperoleh loyalty yang seharusnya didapat Oktober lalu. Soelidarmi membeli program Lunar Special (LS) 7 Days Only, 18 Februari 2002. Tahap pertama, ia menyetor US$ 1.039 (waktu itu sekitar Rp 11.800.000). Pada 9 April setor lagi US$ 110. Terus setor lagi beberapa kali, sehingga total US$ 1.300. Sesuai dengan program LS, kata Soelidarmi, dengan menyetor US$ 1.084,75 akan didapat loyalty tiga kali lipat, US$ 3.254,25 dalam tempo 14 bulan.
Nyatanya? Soelidarmi gigit jari. Meski setoran sudah melampaui batas, belum sesen pun loyaltydireguknya. Oleh manajemen Probest, ia cuma dijanjikan pembagian laba, bukan loyaltymaksimal. Itu pun diundur sampai November dengan berbagai alasan. Keruan Soelidarmi ketar-ketir. Apalagi, ia menyimak contoh kongkret ambruknya bisnis bagi hasil Qurnia Subur Alam Raya yang menggondol ratusan milyar duit investornya.
Maka, Soelidarmi yang pengacara itu pun melapor ke polisi. Belakangan, setelah mendengar kabar bahwa bisnis Probest mandek, Soelidarmi mencibir. ”Benar kan dugaan saya. Probest takkan berumur panjang karena merupakan bisnis tipu-tipu,” kata Soelidarmi kepada Gatra.
Entah bagaimana pengusutan polisi. Yang jelas, waktu itu Burhan tenang-tenang saja menanggapi pengaduan Soelidarmi. Kepada Gatra, Burhan berdalih bahwa loyalty tidak mesti selalu maksimal, tergantung omset perusahaan. Kebetulan, kata Burhan lagi, omset Probest sedang turun sampai 50%. Ia menegaskan pula, perusahaannya itu bukanlah bergerak di bidang investasi atau keuangan, melainkan penyedia jasa perdagangan. Orang setor uang untuk membeli barang, lalu bisa dapat loyalty. Jadi, kata Burhan, tidak melanggar Undang-Undang Perbankan (Gatra, 9 November 2002).
Anehnya pula, pemberitaan media massa soal pengaduan Soelidarmi tersebut nyaris tak berpengaruh. Aktivitas Probest di Gunung Sahari tetap marak. Puluhan nasabah dan calon nasabah tampak hilir mudik di sana. Tidak sedikit mitra baru yang membeli paket tertentu. Malah, banyak pula mitra lama yang tetap meneruskan kewajibannya, kendati loyalty yang dijanjikan diulur-ulur terus oleh Probest. ”Saya takut loyalty-nya hilang,” kata Suratin, mitra asal Jakarta. Buntutnya, duitnya bablas makin banyak, mencapai Rp 300 juta, sementara loyalty tak jua didapat.
Setelah benar-benar sadar dibohongi, pada Februari 2003 sejumlah mitra Probest melaporkan bos perusahaan tersebut ke polisi. Mereka juga melayangkan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat –sidangnya digelar Kamis pekan ini. Pengaduan ke polisi lagi-lagi seperti tak berjawab. Polisi cuma berjanji mengusut kasus itu.
Pekan lalu, pengaduan serupa dilayangkan kembali ke Polda Metro Jaya. Melalui perwakilannya yang dikomandoi Harry Lucianto dan kawan-kawan, 712 mitra Probest mengaku dirugikan Burhan sebanyak Rp 69 milyar. Hasilnya? Masih belum jelas. Seorang penyidik di sana cuma menyebutkan, laporan pengaduan itu masih dalam proses pemeriksaan. Belum ada tersangka. ”Masalah ini rumit, dan menyangkut uang yang banyak,” kata seorang penyidik kepada Gatra.
Penyelesaian masalah model ini memang amat rumit dan makan waktu, terutama bagi nasabahnya yang dirugikan. Belum pernah terjadi duit nasabah bisa kembali semuanya, meski kasusnya ditangani serius secara hukum. Lihat saja nasabah Qurnia Subur Alam Raya yang gigit jari sampai kini. Begitu pula, misalnya, investor Pohonmas Mapan Sentosa, lembaga pembiakan uang di Malang, Jawa Timur, yang rontok Desember tahun silam. Meski kasusnya rampung diberkas polisi, belum secuil pun aset Pohonmas yang dapat dikembalikan ke investornya.
Apa boleh buat, naga-naganya mitra Probest pun mesti siap-siap gigit jari sampai waktu tak tentu. Yang disayangkan, aksi tipu-tipu model ini kerap terbongkar, tapi masih saja jatuh koban baru.
ADA dua kemungkinan kenapa masyarakat masih suka terjebak dalam investasi tidak realistis. Pertama, mereka tidak memahami atau kurang paham kaidah investasi sesungguhnya. Mereka masih melihat aspek return semata tanpa melihat aspek risiko. Akibatnya, mereka terbujuk rayuan penyelenggara investasi. Kedua, mereka memahami aspek risiko, tapi serakah. Sehingga, mereka terjebak dalam investasi seperti itu. Kekosongan regulasi pemerintah turut menyebabkan bisnis seperti ini terus berkembang.
Ambisius dan Gampang Sesumbar
CERDIK dan angkuh. Begitulah sikap dan tindak-tanduk Burhan Sofian sehari-hari. Setidaknya, ini berdasarkan penilaian orang-orang yang cukup mengenal sosok Direktur Utama Probest International itu. ”Dia juga ambisius, pintar meyakinkan orang, dan sangat percaya diri. Dia pun tegaan,” ujar Harry Lucianto. Harry adalah bekas teman dekat Burhan dan menjadi mitra Probest. Belakangan, ia sakit hati karena duitnya Rp 145 juta amblas di Probest.
Burhan memang dikenal sebagai pemain lama di bisnis multilevel marketing (MLM). Sejak malang melintang di dunia MLM dari 1990, lelaki 41 tahun ini setidaknya mendirikan empat perusahaan MLM –di luar Probest. Yakni Rainbow Glass Corporation, PT Sinar Bundhara, PT Napindo Jaya Sejahtera, dan PT Yesindo Interlink Prima.
Berbekal pengalamannya itu, sarjana ekonomi lulusan University of Southern California, Amerika Serikat, ini lantas mendirikan Probest International, November 2000. Di perusahaan barunya, hoki Burhan makin berkilau. Dalam tempo singkat, ayah tiga anak itu mampu mengerahkan anak buahnya menjaring ribuan nasabah. Burhan mulai merangkul kalangan pejabat atau orang berpengaruh di negeri ini untuk ditempatkan sebagai komisaris di Probest atau sekadar teman baik.
Tak mengherankan, acara grand launching Probest pada 18 Mei 2001 sampai dihadiri Miranda Goeltom, Deputi Gubernur Bank Indonesia. Burhan pun dengan mudah melobi Gubernur DKI Sutiyoso untuk meresmikan kantor baru Probest di Gunung Sahari Nomor 25, Jakarta Pusat, Juni 2002. Pendek kata, ia dikenal dekat dengan kalangan pejabat. ”Malah ia pernah sesumbar bisa memanggil pejabat polisi,” tutur Harry kepada Yohansyah dari Gatra.
Di kantor barunya yang terdiri dari delapan lantai, Burhan menempati dua lantai teratas yang mewah. Ruang kerja lelaki ceking berjidat licin itu dilengkapi pengamanan berlapis. Pintu lapis terakhir hanya bisa dibuka secara elektronis oleh yang bersangkutan.
Bak pejabat penting, ke mana-mana Burhan selalu dikawal lelaki berambut cepak. Lebih-lebih ketika Probest mulai oyong dan mendapat tekanan dari para mitranya. Burhan pun jadi susah ditemui, apalagi didekati nasabahnya. Yang mengherankan, polisi seperti jengah menjamahnya. Apa lantaran Burhan memang cerdik main mata?
Sumber : http://arsip.gatra.com/2003-08-29/majalah/artikel.php?pil=23&id=33549




