“Saya sedang mengadakan penghematan total karena hendak membeli rumah. Saat ini menderita tidak apa-apa, asalkan nantinya saya memiliki rumah yang saya idam-idamkan. Semoga Tuhan memberikan kepada kami kekuatan untuk menanggung semua ini.” Seorang teman merasa keluarganya akan melewati kehidupan yang berat ketika dia berusaha mendapatkan rumah mereka yang pertama. Dia sudah menentukan bahwa keluarganya akan mengalami tekanan yang berat selama mereka berusaha untuk mendapatkan rumah pertama mereka.
Saya ingatkan teman saya dengan satu kalimat bijak, “Life is a journey, not a destination.” Hidup ini adalah suatu perjalanan dan bukannya suatu tujuan akhir. Ketika saya melakukan perjalanan jauh untuk berwisata dengan keluarga, yang terpenting bukanlah hanya waktu kami sampai di tempat tujuan. Memang tujuan utamanya adalah pergi ke suatu tujuan, tetapi kami harus memutuskan untuk menikmati sejak kami masuk di dalam kendaraan. Salah besar, ketika kami hanya menikmati tempat wisata tersebut. Kami harus menikmati tujuan wisata sekaligus perjalanan menuju tempat wisata tersebut. Seringkali, waktu yang dihabiskan dalam perjalanan berangkat dan pulang bisa lebih besar dari waktu yang dihabiskan di tempat wisata.
Mendapatkan rumah yang diidamkan sama dengan tujuan wisata, sedangkan usaha untuk mendapatkan rumah itu sama seperti perjalanan. Artinya, sama seperti di dalam perjalanan wisata, kita harus bisa menikmati kedua fase itu yaitu saat mendapatkan rumah dan saat berusaha mendapatkan rumah tersebut.
Oleh karena itu, saya kurang setuju dengan peribahasa “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu , bersenang-senang kemudian.” Peribahasa ini menyatakan bahwa untuk bisa bersenang-senang seharusnya melewati saat bersakit-sakit. Tidak apa-apa menderita dahulu, karena kita akan menikmati hasilnya nanti. Harusnya, kita akan tetap menikmati proses untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.
Memang kita harus mengurangi pengeluaran yang biasanya kita lakukan. Namun, tidak ada hubungan antara menikmati hidup dan mengurangi pengeluaran. Kita mungkin akan mengurangi makan di luar, menonton bioskop atau hobi-hobi lainnya yang memerlukan uang. Tapi saya menganggap bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang menyakitkan. Ini adalah konsekuensi wajar untuk bisa mendapatkan rumah. Ketika kita menganggap bahwa proses ini menyakitkan maka kita tidak akan bisa menikmati proses tersebut. Namun, ketika kita menganggap bahwa proses itu memang harus kita lalui kita akan bisa melalui proses ini dengan bersuka cita. Saat kita merasa tertekan ketika tidak bisa makan di luar, berarti kita merasa bahwa terlalu besar pengorbanan yang sudah kita lakukan. Dalam kondisi seperti ini, pada suatu titik kita akan merasa kecewa dan bisa-bisa berhenti mengejar tujuan.
Dalam suatu perjalanan ada kalanya ada jalan tidak enak yang harus kita lewati. Dalam kondisi yang seperti ini seharusnya yang kita lakukan adalah menikmati perjalanan itu dan bukannya mengeluh. Dalam kondisi apapun, hidup harusnya diisi dengan ucapan syukur dan bukan dengan keluhan.
Kita harus menyadari bahwa “menunda” atau “tidak melakukan” sesuatu yang biasa kita lakukan bukan berarti hal ini menderita. Proses memang senantiasa memerlukan pengorbanan tetapi jangan anggap itu sebagai pengalaman menyakitkan atau penderitaan.
Ketika kita sedang menunda “kesenangan” karena sedang menyisihkan uang untuk menabung atau investasi, jangan anggap itu sebagai penderitaan. Anggap saja suatu perjalanan yang memang harus kita lalui sehingga kita bisa menikmati proses tersebut. Memang, di masa depan kita akan bisa menikmati hasil dari tabungan atau investasi kita. Namun, kita akan menjadi orang yang paling sial apabila kita hanya menikmati hidup di masa depan. Kita harus bisa menikmati hidup kita sekarang. Seringkali, impian untuk mendapatkan hidup yang luar biasa ketika tujuan kiat tercapai tidaklah menjadi kenyataan. Dalam hal seperti ini, menikmati proses yang ada adalah satu-satunya keuntungan yang bisa kita dapatkan. Nikmati,proses yang harus kita alami hari ini ketika kita menanti tujuan kita menjadi kenyataan di masa yang akan datang.



