Mencari Penasehat Investasi atau Pengelola Investasi?

3185
1
BAGIKAN
Pengelola Investasi

 “Saya sekarang memiliki penasihat pribadi di dalam investasi saham saya. Hanya dengan mengikuti seminar senilai sekian juta rupiah dan membayar tambahan sekian juta rupiah per tahun, saya sudah mendapatkan nasehat tentang saham yang harus saya beli dan jual setiap harinya.” Salah seorang teman menyatakan bahwa dia sudah mulai tenang “bermain” saham setiap hari berdasar nasehat yang diterimanya.

Mencari Nasehat atau Melakukan Nasehat?

Banyak orang yang juga melakukan hal yang sama. Mereka ingin berinvestasi di saham tetapi mereka merasa tidak memiliki kemampuan. Dengan kondisi yang seperti ini, solusi yang paling mudah adalah mencari Penasehat Investasi (Financial/Investment Advisor). Dalam kenyataannya, seringkali yang dibingungkan oleh investor saham awal (bahkan yang sudah puluhan tahun sekalipun) adalah bagaimana menerapkan nasehat yang mereka terima. Nasehat yang baik bisa saja tidak berdampak kalau tidak kita terapkan. Dalam hampir semua kasus, penerapan nasehat lebih sulit daripada mendapatkan nasehat yang baik.

Oleh karena itu, beberapa orang sebenarnya tidak membutuhkan Penasehat Keuangan tetapi Manajer Investasi karena mereka tidak hanya membutuhkan nasehat tetapi juga orang yang menjalankan nasehat. Untuk itu, ada instrumen investasi yang sepenuhnya dikelola oleh Manajer Investasi yaitu Reksadana.

Penasehat Keuangan akan memberitahukan kepada kita saham mana yang harus dibeli/dijual dan kapan harus membeli/menjual. Tetapi tindakan membeli dan menjual harus kita lakukan sendiri.

Dengan membeli reksadana saham, kita bisa terbebas dari tanggung jawab membeli dan menjual karena semua aktivitas ini menjadi tanggung jawab dari Manajer Investasi.

Memang hasil investasi saham secara mandiri milik beberapa orang bisa jauh lebih bagus dari hasil investasi Reksadana yang dikelola oleh Manajer Investasi tetapi secara umum Reksadana memiliki imbal hasil yang lebih besar dari kebanyakan investor saham.

Tiga Pertimbangan

Ada tiga pertimbangan yang harus diperhatikan sebelum kita memilih untuk berinvestasi saham sendiri dibantu Penasehat Keuangan atau investasi reksadana yaitu waktu, dana dan pengetahuan.

1. Waktu

Kita perlu menyediakan waktu untuk mengawasi investasi kita. Jika kita bisa menyediakan waktu yang cukup, investasi saham sendiri bisa menjadi pertimbangan kita. Ada beberapa kondisi yang memerlukan keputusan cepat. Dalam kondisi seperti ini, investasi yang tidak diawasi akan menderita kerugian besar. Memang, saham yang tepat akan segera naik lagi tetapi itu semua perlu waktu. Jika kita tidak punya waktu untuk mengambil keputusan yang seperti ini lebih baik kita berinvestasi di Reksadana.

2. Dana

Apakah kita memiliki uang untuk bisa membeli semua saham yang direkomendasikan? Biasanya penasehat kita memberikan 5 sampai 10 saham unggulan. Apakah kita memiliki uang untuk membeli semua saham tersebut? Seringkali, karena keterbatasan dana kita hanya membeli 3 dari 10 saham yang direkomendasikan. Hasil yang sering terjadi adalah 3 saham yang kita beli tidak naik sedangkan 7 sisanya naik. Jika kita memiliki keterbatasan dana, lebih baik kita membeli Reksadana.

3. Pengetahuan

Seringkali, Manajer Investasi memliki tim riset yang jauh lebih mumpuni dari penasehat saham individual. Oleh karena itu, pilihan saham dari Manajer Investasi biasanya akan lebih aman dibandingkan dengan Penasehat pribadi. Oleh karena itu, untuk orang yang kurang memiliki pengetahuan investasi lebih baik memilih Reksadana.

Jika penasehat keuangan kita bisa mengeksekusi sebagian saja nasehatnya dengan tepat, pasti dia akan segera tidak punya waktu untuk memberikan nasehat kepada kita karena sibuk berinvestasi sendiri. Oleh karena itu, saya menyarankan kita berinvestasi saham ketika kita mampu melakukannya tanpa Penasehat Keuangan. Jika kita merasa tidak mampu sendirian lebih baik kita memilih membeli reksadana saham.

1 KOMENTAR

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Pasar Modal. Pasar modal merupakan suatu hal yang dapat dipelajari setiap kalangan yang memiliki modal dan ingin menanamkan modalnya dengan benar. Saya memiliki beberapa tulisan sejenis mengenai pasar modal yang dapat dilihat di Pasar Modal

TINGGALKAN KOMENTAR