“Untuk buku pengetahuan bagi anaknya , seratus ribu rupiah dianggap mahal. Namun, untuk tas sekolah anaknya, tiga ratus ribu rupiah dianggap murah.” Seorang teman mengeluhkan istri dari salah seorang saudaranya. Apakah pengetahuan yang nantinya didapat anaknya akan dianggap lebih rendah artinya dibandingkan dengan penampilan dari anaknya ketika membawa tas sekolah yang keren?
Ketika mendengar pendapat seperti ini, saya menyadari bahwa ada banyak orang yang mempunyai level harga berbeda ketika menentukan harga suatu barang termasuk mahal, wajar atau murah. Oleh karena itu, seringkali seorang merasa heran atas pendapat yang dimiliki oleh orang lain.
Alasan seseorang mengambil keputusan di dalam hal finansial seperti di atas bisa dijelaskan dengan istilah “mental accounting”, sebuah fenomena perilaku finansial yang pertama kali diteliti oleh Richard Thaler, profesor dari School of Business Chicago. Mental accounting adalah perilaku ekonomi di mana seseorang menggolongkan masukan dan keluaran finansial yang dilakukan berdasarkan pos-pos seperti halnya yang ada pada akuntansi.
Jadi, seolah-olah mereka memiliki pos pendidikan, pos untuk tampilan, pos untuk hiburan dan sebagainya di dalam pikiran mereka. Di dalam contoh di atas, di dalam pikiran ibu yang menganggap buku seharga seratus ribu rupiah sebagai barang yang mahal, mungkin saja pos pendidikan yang ada sudah terlalu banyak dikeluarkan. Bisa saja biaya pendidikan yang harus dikeluarkan untuk biaya sekolah sudah sangat banyak menurut ibu ini sehingga jika harus mengeluarkan uang lagi untuk pendidikan dianggap sudah terlalu mahal.
Bandingkan dua skenario di bawah ini.
Skenario 1, Anda sedang ingin menonton konser dan Anda sudah membeli tiket seharga seratus ribu rupiah. Ketika Anda sampai di pintu masuk gedung, Anda menyadari bahwa tiket Anda tersebut sudah hilang. Jika Anda ingin menonton konser tersebut Anda harus membayar seratus ribu rupiah lagi. Apakah Anda akan rela untuk menonton konser ini? Ketika Anda rela mengeluarkan uang lagi, Anda akan menganggap bahwa Anda harus membayar dua ratus ribu rupiah untuk menonton konser tersebut.
Skenario 2, Anda belum mempunyai tiket untuk menonton konser tersebut. Ketika Anda sedang berada dalam antrian untuk membeli tiket, Anda merasa bahwa Anda telah kehilangan uang sebesar seratus ribu rupiah karena terjatuh di jalan. Anda merasa kecewa, apakah Anda tetap akan membeli tiket konser tersebut?
Penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa hanya 46% dari orang yang kehilangan tiket (skenario 1) akan membeli tiket kedua untuk menonton konser. Namun, 88% dari orang yang kehilangan uang dalam jumlah yang sama dalam skenario 2 akan tetap membeli tiket.
Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang kehilangan uang dalam jumlah yang sama besar, ternyata tindakan finansial yang mereka ambil bisa berbeda tergantung dari pos pengeluaran yang ada di kepala mereka.
Memiliki mental accounting yang salah akan menyebabkan kita juga mengeluarkan uang dalam cara yang salah pula. Oleh karena itu, kita harus mengevaluasi mental accounting yang kita miliki untuk bisa mengambil keputusan yang tepat di dalam hal finansial. Jika selama ini, kita mengira bahwa diri kita bukanlah pemboros, tetapi kita mengalami kesulitan untuk menabung meskipun memiliki penghasilan yang cukup besar, maka ada kemungkinan besar kita memiliki mental accounting yang tidak tepat.
Dengan mengubah mental accounting yang kita miliki, keputusan dan tindakan keuangan kita juga akan berubah.



