Sumber dari uang yang kita terima ternyata akan mempengaruhi cara kita menggunakannya. Di dalam pikiran kita seringkali terbentuk bahwa pengeluaran rutin harus dibayar dari pendapatan rutin. Pengeluaran rutin seperti tagihan listrik, telepon, dan sebagainya seharusnya dibayar dari pendapatan regular.
Ketika kita menerima uang untuk hadiah ulang tahun dari teman kita, dan sekalipun dia tidak menyarankan secara spesifik penggunaan uang tersebut, maka rasanya akan sangat tidak enak kalau kita menggunakannya untuk membayar pengeluaran rutin. Kita menganggap uang tersebut haruslah kita gunakan untuk “menyenangkan” diri kita seperti makan di luar, membeli baju baru, dan sejenisnya.
Uang yang kita terima dari tempat kerja dan dari hadiah adalah sama. Namun, kita sudah membuat dalam pikiran kita bahwa uang yang berasal dari hadiah tabu jika digunakan untuk pemenuhan keperluan rutin. Seandainya kita dalam kondisi kekurangan uang sekalipun untuk membayar tagihan listrik, maka kita akan tetap merasa bersalah ketika membayar tagihan tersebut dengan uang dari hadiah.
Kenyataan seperti inilah yang membuat banyak orang yang menerima uang dari hadiah (lotere, undian, dan lain lain) akan merasa lebih mudah dan bebas (tidak perlu bertanggung jawab) untuk menggunakannya karena merasa tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkannya.
Sepasang suami istri berlibur di suatu kasino. Ketika istrinya sedang beristirahat suami ini ingin mencoba keberuntungannya di kasino. Dia membatasi diri hanya dengan membawa uang lima puluh ribu rupiah karena dia tidak ingin kehilangan uang lebih dari jumlah tersebut. Di suatu permainan di kasino tersebut dia memasang seluruh uang yang dia bawa yaitu sebesar lima puluh ribu rupiah. Keberuntungan teryata berpihak pada dia dan dia mendapatkan uang sebanyak lima ratus ribu rupiah. Dia kembali memasangkan semua uang tersebut, dan ternyata dia kembali menang sehingga uangnya menjadi lima juta rupiah. Merasa dinaungi keberuntungan, dia kembali memasang semua uangnya dan kembali menang sehingga total uangnya menjadi lima puluh juta rupiah. Setelah menang 3 kali berturut-turut banyak orang yang menyarankan dia untuk berhenti. Namun karena dia merasa sedang beruntung, dia kembali mempertaruhkan semua uang yang dimiliki. Dan ternyata dia tetap menang sehingga jumlah uangnya menjadi lima ratus juta rupiah. Ketika sudah menang 4 kali berturut-turut banyak orang yang menonton dia mempertaruhkan semua uangnya meminta dia untuk berhenti atau mengurangi jumlah taruhannya. Namun, dia kembali mempertaruhkan seluruh uangnya dan dia kembali menang. Uangnya sekarang berjumlah 5 milyar rupiah. Banyak orang bertepuk tangan dan menyalami dia. Orang ini berpikir untuk bermain sekali lagi dan kemudian kembali ke istrinya. Beberapa orang menyarankan dia untuk tidak mempertaruhkan seluruhnya, tetapi dia tidak peduli. Akhirnya, dengan percaya diri dia menunggu hasil taruhannnya, dan sekarang hasilnya adalah dia kalah. Dia baru saja kalah 5 milyar rupiah. Setelah dia kalah, dia kembali ke kamar menemui istrinya yang langsung bertanya kepadanya, “Berapa banyak kamu Kalah?”. Orang ini menjawab, “Tidak banyak hanya lima puluh ribu rupiah.”
Orang ini memang awalnya hanya membawa lima puluh ribu rupiah, tetapi sesungguhnya dia sudah mendapatkan uang sebesar lima milyar rupiah. Mental Accounting yang dia miliki membuat dia berpikir bahwa ketika mempertaruhkan uang sebesar lima milyar rupiah, uang miliknya sendiri yang dipertaruhkan adalah lima puluh ribu rupiah sedangkan uang sisanya bukanlah miliknya. Kenyataan yang seperti ini menyebabkan banyak orang yang tidak siap menerima berkat melimpah yang dari Tuhan. Seringkali, karena menganggap “uang mudah” maka dengan mudah pula uang tersebut digunakan untuk membeli barang atau untuk dimasukkan ke dalam investasi yang memiliki resiko tinggi.
Ketika kita memiliki pemikiran yang benar, saya percaya ketika kita mendapatkan “uang mudah”, kita akan tetap menggunakannya dengan penuh tanggung jawab.



