“Saya tidak akan menjual saham saya karena harganya sudah turun cukup dalam. Saya beli di harga 300 rupiah per lembar sedangkan sekarang harganya tinggal 75 rupiah per lembar.” Salah seorang teman bercerita tentang strategi investasi di saham yang dimiliki. Ketika saya menyatakan bahwa harga saham itu akan menjadi 50 rupiah per lembar saham dalam waktu dekat ini, teman saya mengatakan bahwa dia sebenarnya juga memiliki perkiraan yang sama dengan saya. Namun, dia tetap tidak menjualnya karena sudah terlanjur rugi. Dia menyadari bahwa harga saham ini akan terus turun tetapi tetap tidak mau menjualnya karena sudah terlanjur rugi.
“Saya tetap mengerjakan proyek ini walaupun saya tahu tidak akan bisa berhasil karena saya sudah terlanjur mengeluarkan biaya terlalu besar.” Salah seorang teman yang lain, tetap melakukan sesuatu yang dia tahu akan menambah kerugiannya. Dia “terpaksa” tetap melakukan aktifitas yang mendatangkan kerugian besar karena merasa sudah terlanjur rugi terlalu banyak.
Pandangan yang salah seperti ini juga dimiliki oleh perusahaan besar, bahkan oleh perusahaan yang didirikan oleh negara besar. Salah satu contoh nyata adalah pembangunan pesawat Concorde oleh Inggris dan Prancis. Biaya pembangunan pesawat ini membengkak enam kali lipat dari jumlah yang diproyeksikan. Mereka juga tahu bahwa nantinya biaya operasional dari pesawat ini sangat mahal ketika mereka sedang mengerjakan proyek ini. Namun, mereka memutuskan untuk tetap meneruskan membuat pesawat ini. Memang sebagian karena alasan gengsi, tetapi sebagian karena mereka merasa sudah mengeluarkan uang terlalu banyak.
Kesalahan seperti ini biasanya disebut dengan sunk cost fallacy (kesalahan yang berkaitan dengan biaya yang “tenggelam”). Kita merasa harus tetap meneruskan apa yang kita kerjakan walaupun kita tahu akan mengalami kerugian yang lebih besar karena merasa sudah mengeluarkan biaya besar.
Kesalahan berpikir seperti ini seringkali bisa membuat investasi kita menjadi hancur berantakan. Untuk mengatasi kesalahan ini, kita harus melupakan apa yang ada di belakang kita dan mengarahkan pandangan pada apa yang ada di depan kita.
Kita harus menyadari bahwa masa lalu mempengaruhi masa sekarang. Sedang masa sekarang akan mempengaruhi masa depan. Jadi masa lalu tidak mempengaruhi masa depan. Masa sekarang yang mempengaruhi masa depan.
Untuk menentukan apakah kita masih harus tetap memegang saham atau tetap mengerjakan proyek adalah dengan cara menganalisa proyek tersebut tanpa memasukkan unsur biaya yang dikeluarkan di masa lalu.
Apakah kita akan tetap melakukan apa yang kita lakukan sekarang jika kita memulainya kembali dari nol saat ini.
Jika saya tidak memiliki saham ini sekarang, apakah saya akan membelinya? Jika saya harus memulai ulang, apakah saya akan tetap mengerjakan proyek yang sama sekarang? Jika jawaban dari pertanyaan tersebut adalah “Ya” maka tidak masalah untuk tetap memegang saham atau mengerjakan proyek yang sedang kita miliki. Namun, jika jawabannya adalah “TIDAK” maka kita harus segera menjual saham tersebut sekarang atau menghentikan proyek yang sedang kita kerjakan sekarang juga.
Mengapa? Karena alasan kita bukanlah karena keuntungan di masa depan tetapi karena kita merasa sudah terlanjur rugi terlalu besar.
Kita sebenarnya menyadari bahwa di masa depan kita akan mengalami kerugian yang lebih besar. Tetapi “perasaan sudah terlanjur” ini membuat pikiran kita dikalahkan oleh perasaan. Tanpa sadar kita hanya membuang semua sumber daya (waktu, tenaga, uang) hanya karena memiliki perasaan sentimen yang salah.



