Mengalami Hidup penuh Sukacita

2230
0
BAGIKAN
Pebisnis memandang ke depan

“Seandainya saja gaji saya meningkat menjadi dua kali lipat maka saya akan menjadi sangat bersukacita!”. Pernyataan ini diungkapkan oleh salah seorang teman ketika kami sedang makan pagi bersama. “Kamu tidak akan pernah menjadi orang yang penuh sukacita!” komentar ini langsung keluar dari mulut saya menanggapi komentar teman saya.

Mengapa demikian? Orang yang tidak pernah bisa bersukacita dengan gaji yang dia terima saat ini, tidak akan pernah bersukacita selamanya. Orang yang tidak bisa bersukacita dari apa yang sudah dia miliki saat ini, tidak akan pernah bisa bersukacita selamanya.

Ketika kita menganggap bahwa gaji yang kita sudah terima selama ini tidak bisa membuat kita bersukacita, maka kondisi yang seperti ini akan selalu berulang terjadi di dalam hidup kita. Saat gaji kita sebesar 5 juta rupiah per bulan, kita berpikir bahwa hidup kita akan penuh dengan sukacita ketika memiiki gaji sebesar 10 juta rupiah. Cara berpikir seperti ini biasanya akan memberikan motivasi tambahan dalam bekerja sehingga kita berhasil mendapatkan tingkatan gaji tersebut. Hasilnya, kita memang menjadi bersukacita.

Namun, tidak lama kemudian kita menemukan bahwa ternyata gaji 10 juta rupiah tidak bisa membuat sukacita kita bisa bertahan lama. Dalam waktu singkat, kita tidak bisa lagi merasakan keindahan hidup dengan gaji 10 juta rupiah per bulan. Akibatnya, kita langsung menganggap bahwa gaji 20 juta per bulan yang akan membuat kita menjadi bersukacita.

Dengan segala daya upaya, kita akan berusaha mendapatkan gaji sebesar 20 juta rupiah karena dengan menganggap setelah mendapatkan gaji lebih besar kita akan menjadi lebih bersukacita. Ketika sudah mendapatkannya, kita memang akan bersukacita. Tetapi, tidak beberapa lama kemudian kita akan kembali kehilangan sukacita dan berharap akan mendapatkan sukacita kembali ketika gaji kita meningkat. Proses ini akan terus terjadi sehingga mengakibatkan kita tidak akan pernah puas dan tidak akan pernah bisa dipenuhi dengan sukacita.

Hal ini akan terus terjadi sampai berapapun jumlah uang yang kita miliki. Oleh karena itu, merasa bersukacita dan penuh kepuasan harus dimulai dengan berapapun pendapatan kita. Benar, kita harus mulai dari sekarang ini. Kenaikan gaji terbukti tidak akan memberikan sukacita dan kepuasan selamanya.

Bersukacita berapapun gaji yang sudah kita terima bukan berarti membuat kita menjadi pasif  dan tidak mau melakukan apapun. Kita tetap berusaha melakukan yang terbaik yang kita bisa. Namun, kita menyadari bahwa sukacita dan damai bukan berasal dari jumlah uang yang kita miliki tetapi dari kondisi hati.

Kita seringkali tidak bisa melihat berkat yang sudah Tuhan berikan di dalam hidup kita.

Kita seringkali tidak mempedulikan kesehatan ketika kita sehat. Kita baru bisa sangat menghargai kesehatan ketika kita tergolek dalam keadaan sakit.

Kita tidak bisa menghargai anak kita yang sudah tumbuh dengan normal. Kita baru bisa merasakan “kenormalan” anak kita merupakan berkat yang luar biasa ketika kita melihat ada anak yang cacat atau anak kita sendiri sedang dalam kondisi yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Dengan senantiasa melihat hal-hal baik yang yang kita miliki tetapi biasanya kita abaikan, kita akan bisa senantiasa bersukacita dalam hidup. Bersukacita adalah pilihan. Bersukacita  adalah saat ini dan bukannya nanti. Bersukacita adalah dengan apa yang dimiliki dan bukan dengan apa yang akan kita miliki.

Silakan mulai menikmati hidup sekarang.

TINGGALKAN KOMENTAR