Persaingan bisnis travel pelayanan ibadah umrah dan haji membuat para pemilik travel berlomba-lomba menawarkan harga murah kepada calon jamaah.
PT Global Inspira Indonesia sendiri sudah ada sejak November 2010. Sejak saat itu ribuan jamaah sudah diberangkatkan dengan harga biasa. Oleh karena hal tersebut, calon- calon jamaah tidak ragu mendaftar umrah dengan harga Rp7 juta rupiah. Pasalnya umrah tersebut terbukti dan tidak ada keluhan dari jamaah yang sebelumnya diberangkatkan.
Tercatat ada 6.300 calon jamaah yang sudah membayar harga promo mulai dari Rp7 juta hingga Rp24 juta yang diperkirakan uang jamaah hingga Rp100 miliar.
Setelah itu, muncul masalah. Maret lalu harusnya ratusan jamaah sudah diberangkatkan. Akan tetapi dari 6.300 jamaah tersebut tidak ada yang berangkat hingga hari ini. November lalu jamaah diberikan alasan tidak ada biaya yang digunakan untuk dapat memberangkatkan jamaah. Kemudian Edwin dan Tiara mengembalikan uang jamaah dengan bentuk cek. Ternayata cek tersebut pun kosong. Karena hal tersebut jamaah lalu melaporkan keduanya.
Saat ditangkap 2017 lalu Komisaris Utama PT Global Inspira Indonesia, Muhammad Edwin Djabbar mengaku kepada Penyidik Ditreskrimum Polda Sulsel, bahwa uang tersebut diputar. Ia memberangkatkan jamaah yang mendaftar awal dengan menggunakan uang jamaah lainnya.
“Jadi modelnya hampir sama kasus Abu Tours. Gali lubang tutup lubang. Jadi uang jamaah yang akan berangkat untuk menutupi jamaah lain,” terang Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani, Selasa (10/4).
Hal tersebut terus dilakukan hingga terjadi kendala. PT Global Inspira Indonesia sudah tidak mampu lagi memberangkatkan jamaah. Uang ratusan miliar tersebut diduga habis untuk menutupi keberangkatan jamaah lainnya.
“Jadi PT Global sudah merekrut ribuan jamaah dengan total Rp100 miliar. Modus lain mereka juga memanfaatkan jejaring berupa agen yang tersebar di Sulsel dan satu agen di Surabaya, Jawa Timur,” terangnya.
Dari pengakuan kedua tersangka, lanjut Dicky, Edwin dan Tiara tidak bisa lagi memberangkatkan jamaah lantaran adanya kenaikan harga mulai dari pesawat, transportasi di Arab Saudi hingga hotel. Hal tersebut membuat pembiayaan meningkat hingga kehabisan dana untuk memberangkatkan jamaah yang mencapai 6.300 orang.




