Polemik penundaan keberangakatan umrah para pengguna jasa First Travel, masih bergulir hingga kini. Setelah kantor First Travel didatangi para jemaahnya terkait pemberitahuan penundaan itu pada Maret lalu, hari ini puluhan jemaah mengadukan hal serupa ke DPR.
Mereka datang mewakili sekitar 600 jemaah dari Jawa Timur yang telantar di DKI sejak empat hari lalu dan belum tahu kapan akan diberangkatkan ke tanah suci.
Salah satunya Saiful. Pria yang bekerja sebagai kontraktor ini mengaku sedih karena tak jadi berangkat ke Tanah Suci sesuai jadwal yang dijanjikan.
“Saya daftar dari tahun 2015, kan harus menunggu setahun. Lalu saya dijanjikan berangkat pada bulan tiga tahun ini (Maret 2017-red),” ujar jamaah asal Surabaya ini di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (22/5).
Tak hanya ditunda keberangkatannya entah sampai kapan, menurut Saiful, biaya kamar hotel tempat dirinya menginap selama di Jakarta juga sudah tak dibayarkan lagi sejak kemarin.
“Sampai saat ini kita juga belum diberangkatkan, bahkan kemarin sore biaya nginep kita di hotel sudah tak lagi dibayarkan,” lanjutnya.
Padahal Saiful mengaku sudah menghabiskan puluhan juta rupiah untuk membayar biaya berangkat ke tanah suci. Terdiri dari biaya yang disetorkan kepada agen First Travel, biaya pembuatan paspor, suntik meningitis, dan lain sebagainya.
Kesedihan serupa juga dirasakan oleh jemaah lainnya, Christine Natali. Di lokasi yang sama, jemaah asal Sidoarjo ini tak kunjung berangkat umrah hingga hari ini, padahal sudah dijanjikan First Travel akan diberangkatkan pada 12 Mei.
“Kita cuma dijanjiin tanggal 12 Mei ada jadwal keberangkatan, sampai tanggal 12 Mei enggak ada apa-apa, kita juga sempatkan ini bertanya dan masih menunggu, menunggu,” ujar Christine.
“Saya kemarin tahun 2016 dijanjikan kalau bayar lunas diberangkatkan antara Januari sampai Mei. Jadi saya langsung bayar cash pada saat itu. Kalau cash Rp 14,8 juta. Kemudian pertengahan jalan mereka minta tambahan uang carter pesawat Rp 2,5 juta,” lanjutnya.
Menurut Christine, ini adalah kali pertama dirinya mendengar citra buruk terkait pelayanan First Travel dan merasakan langsung dampaknya.
“Sebelumnya tidak pernah terjadi, lancar-lancar saja. Dengar dari orang kemudian namanya ibu-ibu dikasih harga murah, kita tertarik. Selama saya itu mendaftar tidak ada masalah apa-apa,” ujarnya.




