Setelah terkatung-katung di Jakarta dan puncaknya gagal berangkat Umrah ke Tanah Suci Makkah Al Muharammah dan Madinah Al Munawarah, dua Calon Jamaah Umrah (CJU) asal Mojokerto, memastikan memilih membatalkan niatnya dan meminta pengembalian uang.
Kepada wartawan, KH. Masyrihan Asyari, Pengasuh Pondok Pesantren Robithotul ‘Ulum Jatirejo Mojokerto –koordinator keberangkatan CJU ini– mengungkap kepastian niat dari dua CJU dengan tanpa menyebut namanya.
“Saya bertanggungjawab. Sejauh ini hanya ada dua orang CJU yang memilih mengundurkan diri, membatalkan niatnya. Tapi, saya masih terus berusaha agar semua CJU dapat berangkat,” katanya.
Sebab pernyataan niatnya untuk mundur, konsekwensinya dua CJU tersebut meminta kembali uang yang telah dibayarkan. KH. Masyrihan Asyari, tidak berupaya menghalangi niat mereka.
“Tetapi, sejak sebelumnya sudah ada kesepakatan, jika terdapat CJU yang menguyndurkan diri, dan meminta kembali uang yang sudah disetorkan, nanti setelah pelaksanaan Umrah tuntas, uang mereka tetap akan dikembalikan,” tegasnya.
Seperti diberitakan Suara Islam Online sebelumnya, sejumlah 120 CJU asal Kabupaten Mojokerto – Jawa Timur gagal berangkat Umrah ke Tanah Suci, setelah selama sepuluh hari terkatung-katung tidak ada kejelasan jadwal keberangkatan dan terlantar di Jakarta. Semula dijanjikan berangkat Rabu (22 Januari), namun pada Sabtu (18 Januari) mendapat pemberitahuan pemberangkatan ditunda Jumat (28 Februari).
Jadwal berangkat tidak ada perubahan, maka sejak Kamis (27 Februari) CJU sudah berada di Jakarta. Setelah menunggu beberapa hari, ternyata Jadwal berangkat ditunda lagi; Rabu (5 Maret). Setelah ditunggu hingga Rabu (5 Maret) terlewati, tidak juga diperoleh kejelasan. Sampai Senin (10 Maret) yang diperoleh khabar penundaan lagi; berangkat dijadwalkan Sabtu (22 Maret). Karena sudah menunggu selama lebih sepuluh hari, CJU memilih pulang ke Mojokerto dan sudah merasa tidak mampu lagi jika harus menunggu sampai 12 hari lagi.
Sejumlah 120 CJU yang keseluruhan asal Tumapel, Desa/Keamatan Jatirejo Kabupaten Mojokerto. Mereka, di bawah koordinasi KH. Masyrihan Asyari, Pengasuh Pesantren Robithotul ‘Ulum Jatirejo, mendaftar melalui Biro Perjalanan / Travel CV. Harta Mulia Sejahtera (CV. HMS) di Jombang. Untuk dapat berangkat ke Tanah Suci, CJU asal Mojokerto ini kemudian digabungkan ke Biro Perjalanan / Travel PT. Religi Sukses Jaya Sakti (PT RSJS) Jakarta.
KH. Masyihan Asyari mengungkapkan, pihaknya telah menyerahkan melalui transfer uang hampir sejumlah Rp 1,5 Miliar kepada PT RSJS. Ternyata, uang tersebut malah digunakan untuk memberangkatkan CJU dari kelompok lain.
“Jamaah kami yang telah lunas biaya justru dikesampingkan,” ungkapnya dengan menyebut janji pemberangkatan Sabtu (22 Maret), diminta dituangkan dalam surat pernyataan yang disaksikan pihak Kepolisian. Dalam surat pernyataan juga tertuang janji, jika tetap tidak bisa memberangkatkan pada Sabtu (22 Maret), uang CJU dikembalikan rata-rata Rp 18.250.000 per CJU.
Asal Ada Tiket Dulu
Menelaah janji dan pernyataan dan janji dari PT. RSJS tersebut, segenap CJU yang tidak menyatakan mengundurkan diri; menyatakan tetap berniat berangkat. Namun CJU meminta ada jaminan dan kepastian dari PT RSJS; dalam bentuk beberapa hari sebelumnya telah memberikan tiket pesawat dari Jakarta ke Jeddah atau dari Jakarta – Madinah.
“Tiket pesawat itu, setidaknya seminggu sebelum tanggal berangkat sudah diterima. Sehingga kami mempunyai kesempatan untuk konfirmasi ke maskapai penerbangan, untuk memastikan kebenaran tiket tersebut. Jika tidak ada tiket pesawat, dan jika tidak ada kepastian kembenaran tiket tersebut, kami sangat khawatir yang sudah terjadi dapat terulang kembali,” papar Achmad Su’udi salah seorang CJU yang juga Kepala Dusun Tumapel, Desa/Kecamatan Jatirejo.
Sedang CJU yang lain menyebutkan juga tetap berniat berangkat; jika tidak harus menambah ongkos dan biaya.
“Kami sudah tidak mungkin dibebani biaya dan ongkos tambahan lagi. Sebab, ketika selama menunggu bahkan terkatung-katung tidak jelas dan terlantar di Jakarta, selama lebih sepuluh hari itu, sudah sangat memberatkan kami,” ungkap salah seorang CJU yang berniat berangkat bersama istrinya.
Sedang seorang CJU yang lain menambahkan; Selama di Jakarta itu, biaya makan dan akomodasi lainnya ditanggung sendiri dan jumlahnya tidak kecil. “Kalau saja ketika itu, kami betul dapat berangkat ke Tanah Suci, di sana mungkin justru menjadi lebih berat. Karena, selama sepuluh atau 12 hari di sana yang dijanjikan gratis hanya penginapan. Biaya makan dan akomodasi lain, menjadi tanggungan CJU. Sedang kami, sudah hampir tidak memiliki “sangu” yang cukup. Sudah habis dipakai selama menunggu di Jakarta,” paparnya.
Di tempat terpisah, KH. Masyrihan Asyari berjanji dapat memenuhi permintaan CJU untuk tidak menambah ongkos dan biaya lagi. “Nilai Rp 18.250.000, sudah merupakan harga paket. Kami juga sudah meminta ke pihak travel PT RSJS pada hari Kamis (20 Maret) datang ke Mojokerto, untuk menunjukkan tiket pesawat kepada segenap Jamaah,” katanya memastikan.




