Terperosok Impian Semusim

Terperosok Impian Semusim

574
0
SHARE

Lagi, puluhan ribu korban terjerumus money game, kali ini ala Pohonmas Mapan Sejahtera. Muhammad Nassa raib menggondol Rp 259 milyar.

PENIPU banyak akal, orang banyak terpontal-pontal. Cerita konyol nan menyedihkan ini sudah berulang kali terjadi. Tahun silam saja setidaknya meletup tiga kasus tipu-tipu menggegerkan. Ada kasus PT Qurnia Subur Alam Raya, yang ditaksir meraup Rp 300 milyar dari 6.000-an korbannya. Lalu, Global Agritindo yang menyabet Rp 8 milyar. Ada pula kasus Citra Farm Group, menghimpun Rp 17 milyar duit masyarakat. Semuanya gempar di Jakarta.

Kali ini, heboh bergaung di Malang, Jawa Timur. Biang keladinya, Muhammad Nassa, lelaki yang pernah dihukum di Surabaya karena praktek penipuan berkedok arisan haji, dua tahun silam. Kini, lewat perusahaan tipu-tipunya, PT Pohonmas Mapan Sejahtera (Pomas), residivis berusia 39 tahun itu menyikat duit milik 35.000 nasabah di kota apel tersebut. Jumlahnya tak kepalang tanggung, Rp 259 milyar. Ini belum termasuk fulus nasabah di Surabaya dan kota lain di Jawa Timur.

Kamis dua pekan lalu, polisi menyegel kantor Pomas di ruko Jalan Soekarno-Hatta dan di Jalan Borobudur, Malang. Polisi juga menahan sejumlah tersangka yang diduga menjadi kaki tangan Muhammad Nassa. Tapi Muhammad Nassa sendiri raib entah kemana. Ia diburu polisi atas sangkaan penipuan dan penggelapan. ”Polisi berkoordinasi dengan aparatur terkait masih memburunya,” kata Kepala Kepolisian Resor Kota (Polresta) Malang, Ajun Komisaris Besar Polisi Fathur Rahman.

Akal-akalan Pomas sebetulnya tergolong kasar. Berbeda dengan perusahaan bagi hasil berbasis agrobisnis semacam Qurnia Subur Alam Raya yang keok duluan, Pomas sama sekali tidak punya bisnis riil. Tapi semata-mata menjual retorika dengan iming-iming keuntungan tinggi yang tak masuk akal. Penyelenggaranya pun terang-terangan menyebut money game, dengan–ini diduga ngibul– menggandeng Gold Quest International, perusahaan emas berpusat di Hongkong.

Pomas menawarkan produk paket investasi dengan nama rancak: Danamas Reguler R13, R10, R6. Harga satu paket Rp 6,5 juta. Dari setiap paket yang dibeli, setiap bulan nasabah memperoleh bagian keuntungan Rp 2 juta selama enam bulan. Artinya, selama setengah tahun duit yang ditanam menggelembung hampir 85%. Luar biasa.

Lalu ada pula paket arisan mobil atau motor. Untuk satu paket arisan sebuah Daihatsu Taruna seharga di atas Rp 100 juta, peserta cukup menyetor Rp 39,5 juta. Paket motor bayar saja Rp 6,5 juta. Setiap paket arisan ini beranggota 24 orang. Nah, peserta tinggal menunggu nomor undiannya muncul, yang diumumkan Pomas.

Dicermati sekilas saja, paket investasi mau pun paket arisan ini sudah terasa amat muskil. Tapi, bagi nasabah yang pingin cepat kaya tanpa usaha, kalkulasi itu malah dengan jitu menyodok logika mereka. Akal sehat jadi oyong. Apalagi, pihak penyelenggara paket-paket ”impian semusim” itu cukup cerdik. Awal-awalnya, pembayaran keuntungan lancar. Mobil dan motor betul-betul dibagikan kepada pemenang arisan. Nasabah pun percaya. Mereka lupa kalau sudah banyak aksi tipu-tipu sejenis terbongkar dan dipublikasi luas.

Walhasil, dalam tempo singkat, investor Pomas membengkak. Sejak beroperasi Februari tahun silam, Pomas yang berkantor pusat di ruko Manyar Indah, Jalan Ngagel Selatan, Surabaya, cepat populer dan menjaring pemodal di beberapa daerah di Jawa Timur. Nasabah terbanyak ditangguk di Malang dan sekitarnya. Di Surabaya dan kota lain di provinsi itu diperkirakan terjaring ratusan nasabah.

Nasabah Pomas dari semua lapisan masyarakat. Dari tukang bakso, pedagang pasar, pegawai pemerintahan, sampai pensiunan. Tak ketinggalan, kalangan akademisi banyak pula terpikat. Mereka terbuai dengan keuntungan menggiurkan. Tak jarang mereka bernafsu menginvestasikan lagi keuntungan yang sempat diperoleh.

Mereka baru ketar-ketir dan akhirnya kelimpungan setelah Pomas kerap ingkar janji, sejak Desember tahun lalu. ”Saya baru mendapat bayaran sebulan, setelah itu tak pernah lagi,” tutur seorang nasabah Pomas, sebut saja Ijul, dengan getir. Pensiunan pabrik farmasi berusia 57 tahun ini mempertaruhkan uang pesangonnya guna membeli tiga paket investasi senilai Rp 19,5 juta. Bulan pertama, ia memperoleh keuntungan Rp 6 juta. Setelah itu, wasalam.

Ribuan nasabah paket investasi lainnya juga belum terbayarkan keuntungannya. Nasib nasabah paket arisan setali tiga uang. Bagi yang belum kena arisan, berarti uang mereka amblas begitu saja. Kalau yang memenangkan arisan? Ah, mereka cuma menikmatinya beberapa bulan saja, kok. Setelah itu, mobil atau motor mereka ditarik oleh dealer. Rupanya, pihak Pomas cuma membayar uang muka dan melunasi cicilannya beberapa kali.

Menurut penyelidikan polisi, Muhammad Nassa mengerahkan sejumlah pengumpul dana, biasa disebut leader. Para leader ini menjaring nasabah sebanyak-banyaknya dengan imbalan komisi Rp 500.000 bagi setiap paket yang terjual. Itu belum termasuk komisi Rp 200.000 dari keuntungan yang didapat nasabah setiap bulan.

Sejauh ini diketahui sedikitnya lima leader di Malang yang masing-masing memegang kendali atas 7.000 hingga 15.000 nasabah. Mereka, Nur Mufidz, Mohammad Choiri dan istrinya, Ny. Sulastri, Yana Revianandra, dan Yusuf Nassa, adik kandung Muhammad Nassa. Hasil pengumpulan dana disetor langsung ke rekening Muhammad Nassa. Para leader ini dibantu puluhuan subleader.

Ketika Pomas mulai limbung, sejumlah nasabah membentuk Forum Peduli Korban Pomas (FPKP), diketuai Nanang Nelson, 38 tahun. Menurut Nanang, mereka pernah mengadakan pembicaraan dengan Muhammad Nassa, 26 Maret silam di Malang. Intinya, mempertanyakan janji-janji Pomas. ”Waktu itu ia mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai jaminan. Itu sama saja bohong,” kata Nanang, kesal.

Awal April lalu, FPKP melapor polisi. Mereka juga mempersiapkan tuntutan perdata. Diam-diam Muhammad Nassa kabur membawa sejumlah mobil mewahnya seperti Toyota Land Cruiser, sedan Mercy dan BMW anyar. Lelaki itu raib bersama istri dan tiga anaknya. Yusuf Nassa, masih tercatat sebagai karyawan PDAM Malang, ikut menghilang, juga bersama sejumlah mobil mewah gres.

Atas laporan korban Pomas, polisi menciduk para leader–minus Yusuf Nassa–, termasuk subleader Agus Basuki, bos School of Business Malang. Beberapa subleader lainnya, di antaranya Dr Asim, Pembantu Rektor III Universitas Negeri Malang, serta M. Sofwan, Kepala Dinas Pendidikan Nasional setempat, tidak digaruk. Sebab, sejauh ini dinilai sebagai korban, dan belum ada yang melaporkannya. Lagi pula, mereka menalangi kewajiban Pomas, membayarkan keuntungan bagi nasabah rekrutan masing-masing.

Di kantor Pomas yang sudah disegel, saban hari ratusan nasabah bergerombol. Mereka pun kerap mendatangi kantor polisi. Mereka berharap polisi mengumpulkan aset Pomas yang tertinggal, dan membagikannya kepada nasabah. ”Banyak dari kalangan tak mampu. Mereka terjerat hutang,” kata Nanang.

Apa boleh buat, kisah impian semusim ini meninggalkan banyak cerita duka. Simaklah nestapa Khoirudin, 35 tahun, yang tercebur di Pomas pada November 2002. Pegawai negeri sipil di Surabaya ini nekat mengambil 11 paket R6 sekaligus dengan nilai Rp 71,5 juta. Uang itu amblas tanpa sempat menghasilkan keuntungan sesen pun.

Padahal, duit itu sebagian besar hasil utangan dari saudara-saudaranya. Untuk mencicil utang itu, ia terpaksa mengambil utangan dari kartu kreditnya, Rp 36 juta. Buntutnya, ia pun diuber-uber debt collector kartu kredit, di samping masih ditagih saudara- saudaranya yang berpiutang. Khoirudin cuma bisa lemas, penuh sesal.

Benarlah kata orang: pikir dahulu dengan logika, sesal kemudian cuma tambah merana.

Sumber : http://arsip.gatra.com/2003-04-28/majalah/artikel.php?pil=23&id=27784

LEAVE A REPLY