    {"id":34,"date":"2016-07-12T12:29:34","date_gmt":"2016-07-12T05:29:34","guid":{"rendered":"http:\/\/penipuankeuangan.com\/?p=34"},"modified":"2021-09-17T08:39:32","modified_gmt":"2021-09-17T01:39:32","slug":"awas-aksi-gerilya-penawaran-voucher-hotel","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/uangpedia.com\/penipuankeuangan\/awas-aksi-gerilya-penawaran-voucher-hotel\/","title":{"rendered":"Awas, Aksi Gerilya Penawaran Voucher Hotel!"},"content":{"rendered":"<p>Pengalaman kali ini datang dari saudara Rahab\u00a0Ganendra yang hampir menjadi korban modus penipuan kartu kredit via penawaran voucher hotel. Berikut adalah ceritanya. Jika Anda ingin menanggapinya, Anda dapat mengunjungi <a href=\"http:\/\/www.kompasiana.com\/rahab\/awas-aksi-gerilya-penawaran-voucher-hotel_552fdd9a6ea8347e568b459f\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sumber artikel<\/a> ini.<\/p>\n<hr \/>\n<p>Ufff, masih saja ada orang yang tak jelas cari jalan rejekinya. Bukan maksud memvonis, tapi kejadian model penawaran diskon hotel, pesawat dan tetek bengeknya ini dari dulu sudah marak. Terindikasi sebagai ajang penipuan. Tentu kita masih ingat, modus penipuan melalui voucher hotel yang sempat santer beberapa tahun lalu. Mungkin juga pernah membacanya di media maupun blog di internet yang banyak dituliskan oleh teman-teman yang mengalaminya.<\/p>\n<p>Kisah model voucher begini lama tak terdengar. Namun beberapa waktu lalu saya kena \u2018jatah\u2019 nya. Jatah untuk mendengarkan penawarannya. Saya merasakan sendiri upaya penipuan yang akan dilakukan sebuah pihak tak bertanggungjawab. Hal itu dikuatkan oleh pihak Bank Negara Indonesia (BNI) yang saya hubungi setelah saya dikontak sebuah nomor ponsel menawarkan voucher hotel. Pihak Bank menyarankan untuk tidak menanggapinya dengan alasan banyak modus penipuan \u2018model voucher hotel\u2019 seperti itu. Pihak Bank juga menjelaskan tidak ada program kerjasama semacam itu, soalnya setiap ada program atau kegiatan baru, pasti akan dirilis secara resmi oleh BNI.<\/p>\n<p>Saya teringat peristiwa itu dan saya terdorong menuliskannya, padahal sebelumnya saya mau melupakan dan biarkan lewat begitu saja. Kejadiannya kira-kira seperti berikut ini.<\/p>\n<p>Pada Senin, 30 September 2013 sekira pukul 11.21 wib, ponsel berdering dari pengguna ponsel 081382354046. Setelah saya angkat penelpon, ada suara wanita di seberang mengaku bernama Rika dari Hotel Arwana. Dia menjelaskan bahwa saya terpilih menjadi salah satu yang memperoleh kartu gratis dan diskon dari hotel Arwana. Nama saya direkomendasikan terkait penggunaan kartu kredit BNI saya yang tak pernah bermasalah.<\/p>\n<p>Lebih jauh dia menjelaskan akan mengirimkan segera kartu gratis free (tiga buah) menginap di hotel dan bisa dipergunakan di kota mana saja sesuai pilihan, 10 voucher diskon hotel lainnya sebesar 30 %, serta diskon pesawat. Semua itu berlaku untuk masa lima tahun. \u201cLumayan juga, bisa ngajak teman-teman \u2018K\u2019 nginap gratis nih,\u201d kata saya dalam hati.<\/p>\n<p>Belum sempat saya bertanya, dia mengalihkan telpon ke manajernya, bernama Artika. Manajernya ini lalu menjelaskan lebih lanjut dan menanyakan alamat pengiriman, karena barang akan diantar segera oleh seorang kurir. Atau lebih tepatnya \u2018mencocokkan\u2019 karena ternyata dia sudah mengetahui alamat saya. \u201cApakah masih beralamat di \u2026. (menyebutkan alamat)?\u201d<\/p>\n<p>Saya menjawab masih di alamat tersebut. Lalu Rika mengatakan bahwa paket kiriman itu harus saya sendiri yang menerima tidak boleh diwakilkan. Alasannya karena ada beban biaya sebesar Rp. 1.900.000,- untuk memasukkan data saya ke dalam database hotel dan pesawat. Biaya sebesar itu akan dibebankan ke kartu kredit saya selama 12 bulan. Jadi setiap bulannya akan muncul tagihan itu sebesar Rp. 158 sekian ribu.<\/p>\n<p>\u201cJadi nanti kurir akan mengantar voucher ke alamat Bapak, sambil membawa alat untuk menggesek kartu kredit Bapak. Tunggu yaa Pak, jangan kemana-mana, sampai kurir kami datang,\u201d katanya. Lalu putus sambungan.<\/p>\n<p>\u201cWalah sama saja bohong dong kalo masih kena beban biaya, langsung bayar dengan gesek kartu di depan lagi\u201d kata saya dalam hati.<\/p>\n<p>Benak saya masih berfikir ini penipuan atau bukan. Daripada bertanya-tanya sendiri, saya langsung telpon call center 500046 milik BNI. Saya menjelaskan penawaran yang saya terima melalui telpon itu. Petugas lalu menjelaskan seperti di atas. Bahwa kejadian seperti itu sering ditanyakan ke pihaknya. Petugas itu bertanya apakah saya memberikan data-data kartu kreditnya, seperti nomer 16 digit angka atau 3 angka dibalik kartu. Saya jawab tidak, saya hanya beritahukan masa berlaku kartu. Lalu dia menawarkan pemblokiran kartu kalau saya merasa tak aman. Saya pikir, masih aman karena tak ada data kartu yang saya berikan, jadi saya tidak memblokirnya. Terbukti beberapa hari kemudian kartu saya aman, tagihan cuma Rp. 26 ribu, lupa sisa terpakai apa. Hehee. Petugas itu menyetujuinya. Dia lalu menjelaskan apabila nantinya menerima telpon lagi, dimohon diabaikan, atau tak usah diangkat.<\/p>\n<p>\u201cSering kejadian seperti itu, voucher diskon fiktif, tak berlaku di hotel yang bersangkutan. Malahan pihak hotel tidak tahu menahu ada program diskon voucher itu. Mohon hati-hati Pak,\u201d kata Petugas operator itu. Akhirnya tak lama setelah itu, ada telpon dari pihak kurir akan mengantar kiriman. Namun saya menolaknya. Seperti dugaan saya, beberapa menit kemudian Artika menelpon kembali dan menanyakan ada masalah apa. Saya bilang, saya tidak ambil kiriman diskon itu. Saya keberatan dengan biayanya dan pihak Bank menyarankan untuk mengabaikannya, karena tak ada program seperti yang ditawarkan. Artika masih menjelaskan, namun kemudian ditutup telponnya setelah saya bilang,\u201d Tidak.\u201d<\/p>\n<p>Sempat terpikir juga mengapa pelaku itu mempunyai data nama lengkap serta nomor ponsel saya. Selidik punya selidik, seorang teman yang pernah bekerja di asuransi Bank ternama, bercerita, bahwa biasanya para sales marketing asuransi diberikan data nasabah dari Bank bersangkutan. Data itu lengkap dari nama, alamat, serta nomor telpon atau ponsel. Tugas mereka menawarkan asuransi melalui telpon. Meski data itu tak bisa dikopi secara otomatis, namun bisa saja sales yang tak bertanggungjawab mencatat manual. Lalu bisa disebarkan atau bahkan bisa dikomersilkan. Artinya data-data itu sangat mudah tersebar.<\/p>\n<p>Nah mungkin ada teman punya pengalaman serupa atau akan mendapat \u2018jatah\u2019 berikutnya. Jangan panik dan lakukan saja seperti berikut ini.<\/p>\n<p>Telpon hotline Bank bersangkutan. Tanyakan apakah benar ada promo, kegiatan seperti yang ditawarkan itu. Ikuti petunjuknya.<\/p>\n<p>Jangan pernah kasih nomer kartu kredit anda dan tiga nomor dibaliknya. Ini krusial mengingat penawaran dilakukan via telpon yang sangat tak aman. Bahkan saking manisnya pelaku membujuk, tanpa sadar bisa mengikut keinginan mereka.<\/p>\n<p>Blokir segera kartu anda jika terlanjur memberikan data-datanya. Untuk memberikan rasa aman dan nyaman terhadap aksi penipuan yang semakin canggih, blokir segera kartu anda.<\/p>\n<p>Abaikan telpon penawaran jika memakai nomor ponsel. Biasanya aksi-aksi tak bertanggungjawab itu menggunakan nomor ponsel, berganti-ganti. Bukan nomor kantor. Terkecuali anda tergelitik serta penasaran ingin mengetahui lebih jauh aksi itu. Tentunya dengan catatan anda harus tetap berhati-hati dan waspada. Siapa tahu bisa membongkar sebuah aksi penipuan.<\/p>\n<p>Abaikan telpon penawaran jika telah meminta dana, baik itu transfer ataupun lewat kartu kredit. Demikian saja, sekedar berbagi.<\/p>\n<p>Semoga bermanfaat. Waspada selalu kapan dan dimana saja! Salam Waspada.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengalaman kali ini datang dari saudara Rahab\u00a0Ganendra yang hampir menjadi korban modus penipuan kartu kredit via penawaran voucher hotel. Berikut adalah ceritanya. Jika Anda ingin menanggapinya, Anda dapat mengunjungi sumber artikel ini. Ufff, masih saja ada orang yang tak jelas cari jalan rejekinya. Bukan maksud memvonis, tapi kejadian model penawaran diskon hotel, pesawat dan tetek [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3246,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[2,4],"tags":[9,10,11,7,12,5,6,8],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/uangpedia.com\/penipuankeuangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34"}],"collection":[{"href":"https:\/\/uangpedia.com\/penipuankeuangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/uangpedia.com\/penipuankeuangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uangpedia.com\/penipuankeuangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uangpedia.com\/penipuankeuangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/uangpedia.com\/penipuankeuangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3247,"href":"https:\/\/uangpedia.com\/penipuankeuangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34\/revisions\/3247"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uangpedia.com\/penipuankeuangan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3246"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/uangpedia.com\/penipuankeuangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/uangpedia.com\/penipuankeuangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/uangpedia.com\/penipuankeuangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}