Dua Reksadana Saham Manulife Cetak Return Tertinggi Sepekan Saat Indeks Tertekan

5
0
BAGIKAN

CEO Manulife Aset Manajemen Indonesia, Legowo Kusumonegoro, bersama karyawannya memantau pergerakan pasar saham dan IHSG di kantor Manulife Aset Manajemen Indonesia. (Bareksa/AM)

Bareksa.com – Mengakhiri pekan pertama bulan November 2019, kinerja pasar saham Indonesia terlihat cukup mengecewakan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,47 persen secara mingguan ke level 6.177,99 pada penutupan perdagangan Jumat (08/11/2019).

Dengan pelemahan tersebut, IHSG telah mencatat penurunan 2 pekan beruntun dan menyentuh level terlemah sejak 14 Oktober.

Dari dalam negeri, beberapa data ekonomi yang dirilis pekan lalu sebenarnya cukup bagus. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III 2019 mencapai 5,02 persen, di atas ekspektasi pelaku pasar yang disurvei Bloomberg 5 persen.

Kemudian Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa per 31 Oktober 2019 tercatat US$126,7 miliar. Angka ini meningkat US$2,4 miliar dibandingkan dengan bulan sebelumnya US$ 124,3 miliar.

BI melaporkan neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III 2019. Pada periode tersebut, NPI mencatatkan defisit US$46 juta lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya US$2 miliar.

Defisit neraca transaksi berjalan (CAD/current account deficit) juga membaik. CAD triwulan III tercatat US$7,7 miliar atau 2,7 persen dari produk domestik bruto (PDB), atau menyusut dibandingkan triwulan sebelumnya 2,9 dari PDB.

Dari sisi eksternal, harapan akan ditandatanganinya kesepakatan dagang Amerika Serikat dengan China sebenarnya mengalami pasang surut. Tetapi pelaku pasar sepertinya tetap optimistis kedua negara pada akhirnya akan menandatangani kesepakatan tersebut.

Meski begitu, sentimen-sentimen tersebut belum sanggup mengangkat performa IHSG sepanjang pekan lalu.

Kondisi bursa saham domestik yang bergerak ke zona merah, turut memberikan sentimen negatif terhadap kinerja reksadana saham,di mana indeks reksadana saham jatuh 4,12 persen, dan indeks reksadana saham syariah anjlok 8,67 persen dalam periode yang sama.


Sumber: Bareksa

Di tengah kondisi indeks reksadana saham yang mengalami tekanan, tercatat dua produk reksadana saham PT Manulife Aset Manajemen Indonesia yang dijual Bareksa mampu membukukan imbal hasil positif dengan kenaikan di atas 1 persen sepanjang pekan lalu. Berikut ulasannya :

1. Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS

Reksadana saham pertama yang mencatatkan imbal hasil tertinggi sepanjang pekan lalu diraih oleh Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS dengan kenaikan 2,35 persen.


Sumber: Bareksa

Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS bertujuan untuk memberikan pertumbuhan investasi jangka panjang dengan berinvestasi pada efek bersifat ekuitas yang sesuai dengan prinsip syariah, yang dijual melalui penawaran umum dan/atau diperdagangkan di Bursa Efek di wilayah Asia Pasifik.

Produk yang dikelola oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia ini, hingga Oktober 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai USD318,86 juta.

Sebagai informasi, Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal US$10.000. Reksadana saham yang dilucurkan sejak 15 Februari 2016 ini bekerja sama dengan bank kustodian Citibank N.A.

2. Manulife Saham SMC Plus

Reksadana saham kedua yang mencatatkan imbal hasil tertinggi sepanjang pekan lalu ialah Manulife Saham SMC Plus dengan kenaikan 1,91 persen.


Sumber: Bareksa

Manulife Saham SMC Plus bertujuan untuk mendapatkan pertumbuhan investasi yang tinggi dalam jangka panjang dengan menginvestasikan sebagian besar dananya dalam efek bersifat ekuitas yang berkapitalisasi kecil dan menengah.

Produk yang dikelola oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia ini, hingga Oktober 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp113,83 juta.

Sebagai informasi, Manulife Saham SMC Plus dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana saham yang dilucurkan sejak 27 Februari 2013 ini bekerja sama dengan bank kustodian Deutsche Bank AG.

Reksadana ialah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana saham adalah reksadana yang mayoritas aset dalam portofolionya adalah instrumen aset saham atau efek ekuitas. Reksadana jenis ini berisiko berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi berpotensi tumbuh dalam jangka panjang.

Maka dari itu, reksadana saham yang agresif disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan untuk investasi jangka panjang. Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

– Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
– Beli reksadana, klik tautan ini
– Pilih reksadana, klik tautan ini
– Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.

Sumber

TINGGALKAN KOMENTAR