11 Istilah dalam Asuransi yang Perlu Anda Ketahui

3188
0
BAGIKAN

Banyak istilah di dalam Asuransi yang tidak diketahui atau disalah-mengerti. Akibatnya, banyak orang membeli Asuransi berdasar pada asumsi mereka sehingga banyak menimbulkan kerugian bagi mereka. Oleh karena itu, Anda sebaiknya memahami beberapa istilah dalam Asuransi sehingga Anda bisa mempermudah interaksi dan komunikasi dengan agen Asuransi sehingga Anda bias mengambil keputusan pembelian dengan lebih baik.

Di bawah ini adalah 11 istilah yang umum dari Asuransi.

1.  Penanggung (Insurer)

Insurer adalah perusahaan berbadan hukum yang bergerak dalam pengelolaan risiko dan menjual produk jasa asuransi, sehingga disebut sebagai perusahaan asuransi. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 menyatakan bahwa yang termasuk dengan penanggung adalah perusahaan asuransi jiwa, perusahaan asuransi kerugian, dan perusahaan reasuransi.

Jenis perusahaan Asuransi yang ada di Indonesia:

A.  Perusahaan Asuransi Jiwa

Perusahaan asuransi jiwa adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam penanggulangan risiko yang dikaitkan dengan hidup atau meninggalnya seseorang yang dipertanggungkan.

B.  Perusahaan Asuransi Kerugian

Perusahaan asuransi kerugian (sering disebut dengan asuransi umum) adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam penanggulangan risiko atas kerugian, kehilangan manfaat, dan tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga, yang timbul dari peristiwa yang tidak pasti

C.  Perusahaan Reasuransi

Perusahaan reasuransi adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam pertanggungan ulang terhadap risiko yang dihadapi oleh perusahaan asuransi jiwa dan perusahaan asuransi kerugian.

D.  Perusahaan Pelaksana Program Asuransi Sosial

Selain ketiga perusahaan Asuransi di atas, perusahaan pelaksana program asuransi sosial. Juga dikategorikan sebagai penanggung. Program asuransi sosial adalah program asuransi yang diselenggarakan secara wajib berdasarkan suatu undang-undang, dengan tujuan untuk memberikan perlindungan dasar bagi kesejahteraan rakyat banyak.

2.  Tertanggung (Insured)

Tertanggung adalah konsumen individu atau konsumen institusi yang membeli jaminan asuransi, baik asuransi jiwa atau asuransi kerugian. Pembeli asuransi kerugian perlu menjelaskan kepentingan obyek dan risiko kerugian yang ingin dilindungi. Pembeli asuransi jiwa perlu menjelaskan siapa dan risiko yang ingin dilindungi oleh asuransi jiwa tersebut.

Pihak tertanggung dan penanggung harus mengikuti 6 prinsip Asuransi (beri link)

3.  Surat Permintaan Penutupan Asuransi (SPPA)

Surat Permintaan Penutupan Asuransi adalah dokumen perjanjian yang memuat data dan informasi secara lengkap dan benar yang diberikan oleh tertanggung, yang merupakan dasar dari penanggung menyiapkan dokumen perjanjian polis. Formulir ini harus ditandatangani oleh tertanggung dan harus distempel jika tertanggung sebuah institusi. Apabila barang yang diasuransikan cukup banyak maka penjelasan tentang barang ini bisa diletakkan dalam lampiran yang merupakan bagian dari SPPA.

Secara umum, SPPA mengandung informasi sebagai berikut:

  1. Nama tertanggung, yakni orang yang memiliki kepentingan terhadap obyek pertanggungan.
  2. Alamat lengkap tertanggung.
  3. Data dan informasi tentang obyek pertanggungan.
  4. Lokasi obyek pertanggungan.
  5. Jumlah nilai obyek pertanggungan.
  6. Luas jaminan yang dikehendaki.
  7. Tarif premi yang disepakati.
  8. Jangka waktu pertanggungan, tanggal mulai dan tanggal berakhirnya asuransi yang diinginkan.
  9. Syarat-syarat pembayaran premi dan lain-lain hal yang disepakati.
  10. Keterangan lain-lain yang terkait dan relevan dengan pembelian asuransi. Yang termasuk di poin ini adalah keberadaan obyek pertanggungan lainnya yang telah dan akan diasuransikan kepada perusahaan lain selain yang akan diasauransikan pada perusahaan asuransi ini. Di sini diperlukan kejujuran tertanggung untuk mendeklarasikan seluruh informasi yang diperlukan oleh penanggung.

Ketidakbenaran dan ketidaklengkapan dalam mengisi SPPA ini bisa membuat batalnya pertanggungan atau membuat klaim tidak bisa diberikan.

4.  Survey Risiko

Pelaksanaan survey risiko didasarkan pada pasal 251 KUHD yang menyatakan bahwa calon tertanggung/tertanggung harus memberitahukan informasi yang benar tentang harta benda yang dipertanggungkan. Apabila calon tertanggung/tertanggung tidak memberikan informasi yang benar, maka penanggung secara sepihak dapat membatalkan berlakunya polis asuransi.

Survey ini bisa dilakukan sendiri oleh petugas perusahaan asuransi. Namun bisa saja menggunakan jasa surveyor independe jika asset yang harus dinilai dianggap komplek dan rumit.

Survey ini memberikan manfaat kepada tertanggung karena bisa memberikan masukan apabila masih terdapat obyek pertanggungan lainnya yang seharusnya diasuransikan tetapi belum tercantum dalam formulir SPPA. Dengan demikian, manfaat asuransi bisa menjadi optimal.

Dari sisi penanggung, survey resiko ini akan bermanfaat ketika penanggung mengasuransikan lagi (reasuransi). Survey risiko merupakan wujud kesungguhan dari perusahaan penanggung pertama dalam memberikan bukti-bukti tentang obyek pertanggungan yang diterima dari pihak tertanggung.

5.  Premi (Premium)

Premi adalah harga untuk jaminan risiko yang ditanggung oleh penanggung untuk risiko tertentu, pada tempat tertentu dan untuk jangka waktu tertentu pula. Besarnya jumlah premi yang harus dibayar oleh tertanggung ini dihitung dari besarnya tarif atau suku premi dikalikan besarnya nilai pertanggungan atas obyek pertanggungan.

6.  Polis Asuransi (Insurance policy)

Polis Asuransi adalah dokumen perjanjian tertulis antara penanggung dengan tertanggung yang diterbitkan dan ditandatangani oleh penanggung. Secara garis besar, polis berisi jangka waktu perjanjian, syarat-syarat perjanjian, risiko kerugian yang diganti dan risiko kerugian yang tidak diganti. Tertanggung tidak bertanda tangan di atas dokumen polis, melainkan di atas fomulir SPPA.

7.  Jangka Waktu Pertanggungan (Time Period)

Jangka waktu pertanggungan disesuaikan dengan kesepakatan antara tertanggung dan penanggung. Dalam asuransi kerugian pada umumnya selama duabelas bulan, dan dapat diperpanjang lagi sesudah janggka waktu duabelas bulan yang pertama berakhir. Pada asuransi pengangkutan barang, jangka waktu pertanggungan disesuaikan dengan lamanya waktu perjalanan.

8.  Tuntutan Ganti Rugi/Claim Asuransi

Klaim adalah tuntutan ganti rugi yang diajukan oleh tertanggung kepada penanggung. Prosedur untuk mengajukan tuntutan ganti rugi biasanya ada di dalam polis asuransi. Seringkali, kekurang lancaran dalam proses penyelesaian tuntutan ganti rugi disebabkan karena kekurangapahaman pemegang polis terhadap syarat-syarat pengajuan tuntutan ganti rugi. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya penjelasan yang diberikan oleh agen/petugas asuransi.

9.  Reasuransi (Re-insurance)

Reasuransi adalah perusahaan asuransi yang mengkhususkan diri hanya menerima pertanggungan ulang dari perusahaan Asuransi.

Namun, Reasuransi bisa juga diartikan sebagai tindakan untuk mengasuransikan. Artinya, perusahaan Asuransi sebagai penanggung asli meminta perusahaan Asuransi lainnya untuk melakukan pertanggungan ulang. Salah satu alsannya adalah untuk menyebarkan risiko.

10.  Pialang Asuransi (Insurance Broker)

Pialang asuransi merupakan organisasi di luar perusahaan asuransi yang berfungsi sebagai saluran distribusi. Pialang asuransi mewakili kepentingan calon tertanggung untuk mendapatkan perusahaan penanggung memiliki jaminan pertanggungan yang lebih luas dan dengan premi yang relatif lebih rendah. Untuk jasa ini, pialang asuransi mendapatkan imbalan yang berupa komisi pialang yang berasal dari tertanggung.

11.  Agen Asuransi (Insurance Agents)

Agen asuransi merupakan penghubung atau pembawa relasi (aanbrenger) kepada perusahaan asuransi. Lembaga keagenan bisa berasal atau dibentuk oleh perusahaan asuransi atau bisa juga merupakan organisasi yang berdiri sendiri atau tidak memiliki keterikatan dengan perusahaan asuransi. Fungsi agen adalah mewakili perusahaan asuransi dalam menghadapi calon tertanggung/tertanggung.

Sumber: diambil dari berbagai sumber.

TINGGALKAN KOMENTAR